Cerpen Kehidupan This Week -Kereta kehidupan
CERPEN Kehidupan This Week by AB
![]() |
L00k Fr0nt fr0 pinterest.c0 |
Kereta Kehidupan- jreng…jreng, jreng
jug gijag gijug gijag gijug, deru kereta api mengiringi perjalanan pulangku.
Sang masinis memacu ulat besinya yang bernama kedung sepur. Satu persatu
stasiun dilewati. Menderu, bergerak bagai angin yang berhembus, tanpa ada yang menghalangi,. Semua kendaraan berhenti menatap sang kereta untuk memberi jalan dengan hormat.
“mohon
perhatian - mohon perhatian, sesaat lagi kereta api kedung sepur akan tiba di stasiun Alas Tua,
bagi penumpang yang turun di stasiun Alas Tua dimohon untuk mempersiapkan diri”
suara kondektur memecahkan keheningan di kereta melalui mulut-mulut berlubang
yang berada di langit-langit kereta. Kereta yang terasa mewah tapi harganya merakyat ini semakin
hari semakin diminati masyarakat sejak diluncurkan tahun 2015 yang lalu.
Sang
ulat besi ini, berangkat dari stasiun poncol, semarang dan akan berakhir di daerahku
yaitu Depok, kecamatan toroh. Bergerak tanpa ragu bak jiwa yang sedang
dirundung cinta. Kupandang jendela dan sungguh Nampak Yang Maha Kuasa
menunjukan tajinya. Gunung menjulang tinggi diujung hamparan sawah yang hijau.
Sesekali Nampak burung beterbangan menyingkap awan kelam kehidupan.
Semangatku
semakin terpacu beriringan dengan ulat besi ini yang melintas deras
ditengah-tengah perairan luas.
Luar biasanya, kini ulat besi ini
berdiri tegap ditengah-tengah air. Lima menit berjalan ditengah-tengah tambak
luas di tepi pantai Tanjung Mas. Rasa nyaman yang diberikan oleh Allah ini
sungguh menggairahkan jiwa bak turunnya hujan di kemarau panjang yang
menumbuhan tumbuhan yang menghiasi alam semesta.
Tuuuuiiiiiiit….,
peluit panjang sang kondektur memaksa sang ulat besi untuk segera bergerak
maju menuju stasiun-stasiun berikutnya. Pandanganku kini berkeliling melihat
suasana di dalam kereta dan berhenti di sudut gerbong dekat pintu masuk. Aku
tertarik dengan muda-mudi yang tak tau darimana asalnya, tapi dapat kupastikan
keduanya tidak merencanaan pertemuan tersebut. Jelas saja yang perempuan dari stasiun
poncol, sementara yang laki-laki berasal dari stasiun yang berbeda. Mereka
terlihat cocok dengan keadaan berdiri berdekatan dengan mengenakan pakaian
dengan warna yang sama. “Ah, cukup ah, mungkin mereka berpasangan” gumamku
“Aku takut jika
aku menulisnya menjadi dosa sampai akhirnya dibaca orang, dimana tidak benar
maka jadi fitnah, dan sekalipun itu benar sama saja aku telah menyumbang dosa dalam
dimensi gibah” Huss….., semoga Allah mengampuni aku dan keluargaku dan kita
semua Aamiin. “ gumam dalam hati yang tak terelakkan. Oh, ya… akupun taklupa
memandang sebelahku, perempuan cantik berkerudung putih yang kebetulan duduk
disampingku.
“Heh, ada apa mas?” dia
mengagetkanku
“eh, eh ndak, ndak ada apa-apa
kok, aku cuma..Cuma” sambil gugup mulutku berpacu menyingkapkan apa yang ingin
kusampaikan. “Aku Cuma lihat-lihat saja, siapa tau ada yang ku kenal”
“iyakah”
“iya benar” aku menegaskan.
“Perkenalkan, aku bukhori, siapa namamu?”
“eh, maaf, aku ni’mah dari toroh”
dia menolak kuajak berjabat tangan.
“oh, iya. Torohnya mana?”
kubertanya
“ desa boloh”, kujawab dengan
suara rendah:” oh, boloh,, aku tau”
“kamu mana?”
“Aku dari desa depok, deket
stasiun, hehe”
“oo, pantesan, sering naik kereta
ya?”
“ lumayan sih, kearena sering
bolak-balik semarang. Oh iya kamu kuliah di semarang ya..?
“hla kok tau?” ni’mah penasaran.
“hla itu..” Sambil menunjuk
lengan bajunya yang berlambang UNDIP.
“hehe, iya, kamu sendiri? Kuliah
apa kerja?”
“aku juga kuliah di UNNES,
Gunungpati, hehe”
Percakapan
itupun tidak berlangsung lama, karena akhirnya sampai di tujuan, yaitu stasiun
Ngrombo. Yah betul, kami berdua berpisah, begitu juga dengan dua orang yang
sempat bergerilya dihatiku tadi..
Hari
itu ramai sekali penumpangnya, maklumlah hari sabtu, semua kursi penuh,
sampai-sampai ada yang berdiri. Aku turun dari kereta bersama ratusan
penumpang lainnya. Aku langsung dijemput oleh ayahku dengan motor
kesayangannya. Motor GL-Pro keluaran tahun tujuh puluhan yang punya segudang
cerita, sampai-sampai menjadi saksi bisu pertemuan dengan ibuku, seorang
ustadzah di pesantren At-Taqwa yang lumayan ternama di Grobogan..
Perjalanan
baru separo, kami dikejutkan dengan seorang kakek yang tergeletak di pinggir
jalan. Spontan ayah mengerem motornya, aku melompat dan lari menuju kakek
tersebut berada. Ternyata kakek tersebut sudah tak sadarkan diri dengan luka
berdarah di kepalanya. Sepinya jalan di senja itu ditambah dengan tak adanya
kendaraan yang lalu lalang menyebabkan kami kebingungan untuk meminta tolong.
Tanpa berfikir
panjang, kami langsung membawa kakek tersebut ke Rumah Sakit Islam Daerah.
Sesampainya disana kami langsung menuju ke IGD. Dengan sigapnya, Dokter
langsung menanganinya. Kami yang berharap-harap cemas juga dibingungkan dengan
tidak adanya tanda pengenal kakek tersebut. Hanya motor matic yang sedikit peok
dengan helmnya saja yang kami
ketahui. Akhirnya kami bertanggungawab atas kakek tersebut.
to be continued.........
Kereta Kehidupan- jreng…jreng, jreng
jug gijag gijug gijag gijug, deru kereta api mengiringi perjalanan pulangku.
Sang masinis memacu ulat besinya yang bernama kedung sepur. Satu persatu
stasiun dilewati. Menderu, bergerak bagai angin yang berhembus, tanpa ada yang menghalangi,. Semua kendaraan berhenti menatap sang kereta untuk memberi jalan dengan hormat.
“mohon
perhatian - mohon perhatian, sesaat lagi kereta api kedung sepur akan tiba di stasiun Alas Tua,
bagi penumpang yang turun di stasiun Alas Tua dimohon untuk mempersiapkan diri”
suara kondektur memecahkan keheningan di kereta melalui mulut-mulut berlubang
yang berada di langit-langit kereta. Kereta yang terasa mewah tapi harganya merakyat ini semakin
hari semakin diminati masyarakat sejak diluncurkan tahun 2015 yang lalu.
Sang
ulat besi ini, berangkat dari stasiun poncol, semarang dan akan berakhir di daerahku
yaitu Depok, kecamatan toroh. Bergerak tanpa ragu bak jiwa yang sedang
dirundung cinta. Kupandang jendela dan sungguh Nampak Yang Maha Kuasa
menunjukan tajinya. Gunung menjulang tinggi diujung hamparan sawah yang hijau.
Sesekali Nampak burung beterbangan menyingkap awan kelam kehidupan.
Semangatku
semakin terpacu beriringan dengan ulat besi ini yang melintas deras
ditengah-tengah perairan luas.
Luar biasanya, kini ulat besi ini
berdiri tegap ditengah-tengah air. Lima menit berjalan ditengah-tengah tambak
luas di tepi pantai Tanjung Mas. Rasa nyaman yang diberikan oleh Allah ini
sungguh menggairahkan jiwa bak turunnya hujan di kemarau panjang yang
menumbuhan tumbuhan yang menghiasi alam semesta.
Tuuuuiiiiiiit….,
peluit panjang sang kondektur memaksa sang ulat besi untuk segera bergerak
maju menuju stasiun-stasiun berikutnya. Pandanganku kini berkeliling melihat
suasana di dalam kereta dan berhenti di sudut gerbong dekat pintu masuk. Aku
tertarik dengan muda-mudi yang tak tau darimana asalnya, tapi dapat kupastikan
keduanya tidak merencanaan pertemuan tersebut. Jelas saja yang perempuan dari stasiun
poncol, sementara yang laki-laki berasal dari stasiun yang berbeda. Mereka
terlihat cocok dengan keadaan berdiri berdekatan dengan mengenakan pakaian
dengan warna yang sama. “Ah, cukup ah, mungkin mereka berpasangan” gumamku
“Aku takut jika
aku menulisnya menjadi dosa sampai akhirnya dibaca orang, dimana tidak benar
maka jadi fitnah, dan sekalipun itu benar sama saja aku telah menyumbang dosa dalam
dimensi gibah” Huss….., semoga Allah mengampuni aku dan keluargaku dan kita
semua Aamiin. “ gumam dalam hati yang tak terelakkan. Oh, ya… akupun taklupa
memandang sebelahku, perempuan cantik berkerudung putih yang kebetulan duduk
disampingku.
“Heh, ada apa mas?” dia
mengagetkanku
“eh, eh ndak, ndak ada apa-apa
kok, aku cuma..Cuma” sambil gugup mulutku berpacu menyingkapkan apa yang ingin
kusampaikan. “Aku Cuma lihat-lihat saja, siapa tau ada yang ku kenal”
“iyakah”
“iya benar” aku menegaskan.
“Perkenalkan, aku bukhori, siapa namamu?”
“eh, maaf, aku ni’mah dari toroh”
dia menolak kuajak berjabat tangan.
“oh, iya. Torohnya mana?”
kubertanya
“ desa boloh”, kujawab dengan
suara rendah:” oh, boloh,, aku tau”
“kamu mana?”
“Aku dari desa depok, deket
stasiun, hehe”
“oo, pantesan, sering naik kereta
ya?”
“ lumayan sih, kearena sering
bolak-balik semarang. Oh iya kamu kuliah di semarang ya..?
“hla kok tau?” ni’mah penasaran.
“hla itu..” Sambil menunjuk
lengan bajunya yang berlambang UNDIP.
“hehe, iya, kamu sendiri? Kuliah
apa kerja?”
“aku juga kuliah di UNNES,
Gunungpati, hehe”
Percakapan
itupun tidak berlangsung lama, karena akhirnya sampai di tujuan, yaitu stasiun
Ngrombo. Yah betul, kami berdua berpisah, begitu juga dengan dua orang yang
sempat bergerilya dihatiku tadi..
Hari
itu ramai sekali penumpangnya, maklumlah hari sabtu, semua kursi penuh,
sampai-sampai ada yang berdiri. Aku turun dari kereta bersama ratusan
penumpang lainnya. Aku langsung dijemput oleh ayahku dengan motor
kesayangannya. Motor GL-Pro keluaran tahun tujuh puluhan yang punya segudang
cerita, sampai-sampai menjadi saksi bisu pertemuan dengan ibuku, seorang
ustadzah di pesantren At-Taqwa yang lumayan ternama di Grobogan..
Perjalanan
baru separo, kami dikejutkan dengan seorang kakek yang tergeletak di pinggir
jalan. Spontan ayah mengerem motornya, aku melompat dan lari menuju kakek
tersebut berada. Ternyata kakek tersebut sudah tak sadarkan diri dengan luka
berdarah di kepalanya. Sepinya jalan di senja itu ditambah dengan tak adanya
kendaraan yang lalu lalang menyebabkan kami kebingungan untuk meminta tolong.
Tanpa berfikir
panjang, kami langsung membawa kakek tersebut ke Rumah Sakit Islam Daerah.
Sesampainya disana kami langsung menuju ke IGD. Dengan sigapnya, Dokter
langsung menanganinya. Kami yang berharap-harap cemas juga dibingungkan dengan
tidak adanya tanda pengenal kakek tersebut. Hanya motor matic yang sedikit peok
dengan helmnya saja yang kami
ketahui. Akhirnya kami bertanggungawab atas kakek tersebut.
to be continued.........
Comments
Post a Comment